‎Pidie Jaya – Bangkai seekor gajah sumatera yang ditemukan mati terseret banjir bandang di desa Meunasah Lhok, kecamatan Meurudu, kabupaten Pidie Jaya, Aceh hingga kini belum juga ditangani secara layak. Kondisi tersebut menimbulkan bau busuk menyengat yang sangat mengganggu kenyamanan warga yang tinggal di sekitar lokasi penemuan.

‎Sejak beberapa hari terakhir, warga mengeluhkan aroma tak sedap yang semakin menyengat, terutama pada siang hari. Bau dari bangkai satwa dilindungi itu dinilai tidak hanya mengganggu aktivitas warga, tetapi juga berpotensi menimbulkan dampak kesehatan jika dibiarkan berlarut-larut.

‎Kondisi memprihatinkan ini mendapat sorotan serius dari Jaringan Gajah Nusantara. Sekretaris JGN Muhammad Fadly sangat menyayangkan lambannya penanganan bangkai gajah tersebut oleh pihak berwenang.

‎“Seharusnya bangkai gajah ini segera ditangani dan dikuburkan sesuai prosedur. Sampai hari ini belum ditanam, baunya sudah sangat menyengat dan jelas meresahkan masyarakat,” ujar Muhammad Fadly (07/01/2025).

‎Fadly menegaskan, gajah sumatera merupakan satwa dilindungi yang penanganannya tidak boleh diabaikan, meskipun telah mati akibat bencana alam. Ia mendesak Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) untuk segera turun tangan dan mengambil langkah cepat di lapangan.

‎“Kami berharap BKSDA dan instansi terkait segera bertindak. Kondisi di lapangan sangat memprihatinkan, baik dari sisi lingkungan, kesehatan warga, maupun penghormatan terhadap satwa dilindungi,” tegasnya.

‎Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak BKSDA terkait keterlambatan penanganan bangkai gajah sumatera tersebut. Warga berharap pemerintah dan pihak berwenang segera mengambil tindakan agar masalah ini tidak terus berlarut dan berdampak lebih luas.

Sumber Rilis Nandar